Berbagi Ilmu Bersama Pasti Bisa

Sabtu, 10 Oktober 2020

PTK

  

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BIOTEKNOLOGI

MELALUI PENDEKATAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) BERBASIS ADIWIYATA PADA SISWA KELAS IXC SMP NEGERI 1 NGADIROJO

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

PUDI SRI MARYATMO

( Guru IPA SMP Negeri 1 Ngadirojo Wonogiri )

Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar IPA materi bioteknologi melalui pendekatan Project Based Learning ( PjBL) berbasis Adiwiyata pada siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Prosedur dalam penelitian ini dilakukan melalui dua siklus dan setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam  penelitian ini dipakai data kuantitatif yang dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yakni mencari rerata skor hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA materi bioteknologi, selain itu juga mencari data kualitatif hasil observasi terhadap kemampuan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  terjadi peningkatan hasil belajar dicapai siswa. Hasil observasi awal, rata-rata hasil belajar siswa 68,57, siswa yang tuntas 50,00%. Setelah dilakukan penelitian tindakan kelas, diperoleh rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 79,04, jumlah siswa yang tuntas 84,62%, dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa 84,42, jumlah siswa yang tuntas 96,15%. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan Project Based Learning ( PjBL) berbasis Adiwiyata dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi Bioteknologi pada siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo semester genap tahun pelajaran 2018/2019.

Kata Kunci: Project Based Learning, Adiwiyata, Hasil Belajar.

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah pengalaman belajar yang memiliki programprogram dalam pendidikan formal, nonformal ataupun informal di sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan mengoptimalisasi pertimbangan kemampuankemampuan individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan secara tepat. Sekolah adalah institusi sosial yang didirikan oleh masyarakat untuk melaksanakan tugastugas pendidikan kepada generasi muda. Dalam konteks ini pendidikan dimaknai sebagai proses untuk memanusiakan manusia untuk menuju kepada kemanusiaannya yang berupa pendewasaan diri. Melalui pendidikan disemaikan pola pikir, nilai, dan norma masyarakat dan selanjutnya ditransformasikan dari generasi ke generasi untuk menjamin keberlangsungan hidup sebuah masyarakat.

Kurikulum 2013 atau biasa disebut kurtilas merupakan sistem pendidikan yang berlaku pada masyarakat Indonesia. Kurikulum ini merupakan hasil riset dan pengganti dari kurikulum 2006. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum 2013 dalam dimensi proses adalah realisasi ide dan rancangan kurikulum menjadi suatu proses pembelajaran.

Guru adalah tenaga kependidikan utama yang mengembangkan ide dan rancangan tersebut menjadi proses pembelajaran. Pemahaman guru tentang kurikulum akan menentukan rancangan guru (rencana program pembelajaran) dan diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Peserta didik berhubungan langsung dengan apa yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran dan menjadi pengalaman langsung peserta didik. Apa yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum. Oleh karena itu proses pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan.

Di SMP Negeri 1 Ngadirojo pada mata pelajaran IPA materi Bioteknologi terjadi permasalahan kurang maksimalnya hasil  belajar siswa. Berawal dari hasil uji kompetensi IPA materi Bioteknologi pada siswa kelas IX Semester Genap tahun pelajaran 2017/2018 yang umumnya rendah. Seperti halnya pada kelas IXC pada tahun lalu dari 28 siswa yang dibawah KKM ada 14 siswa, nilai rata – rata 68,57 serta  prosentase daya serap ulangan harian hanya mencapai 50,00%.  Padahal ketuntasan belajar di SMP Negeri 1 Ngadirojo adalah 73 dan daya serap yang ideal adalah 85%. Pada standar kompetensi ini mereka belum memahami bagaimana menjelaskan materi Bioteknologi dengan baik.

Dari pengalaman pembelajaran IPA tersebut perlu ditingkatkan hasil pembelajarannya di tahun pembelajaran yang akan datang. Untuk itu peneliti dan teman sejawat yaitu Ibu Tri Siwi Hernaningsih, S.Pd melakukan diskusi untuk mengetahui penyebab dan mencari jalan keluar terhadap rendahnya hasil hasil belajar IPA materi Bioteknologi. Berdasarkan hasil diskusi yang menjadi penyebab adalah guru masih kurang dalam mengembangkan variasi mengajar di kelas. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional masih diterapkan oleh guru sehingga siswa sebagai objek bersifat pasif, hanya mendengarkan dan menghafal serta menyimak pengetahuan yang ditransfer dari guru. Guru lebih banyak menggunakan pendekatan konvensional karena dinilai mudah untuk dilaksanakan. Guru cenderung hanya menggunakan buku pelajaran yang ada sebagai satu-satunya sumber belajar. Akibat dari pembelajaran tersebut siswa menjadi terbiasa menerima apapun yang diberikan oleh guru tanpa mau berusaha sendiri untuk menemukan konsep-konsep yang dipelajari, sehingga siswa menjadi kurang memahami materi yang dipelajari.

Dalam mempelajari pelajaran yang bersifat sains, penggunaan metode konvensional seperti ceramah pada proses pembelajaran berlangsung, tidak relevan untk mencapai kompetensi tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Hal ini dikarenakan metode konvensional hanya dapat mengembangkan satu aspek saja yaitu aspek kognitif, sedangkan dua aspek lainnya tidak tersentuh, tidak dikembangkan sehingga keduanya tidak tercapai. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar IPA meteri Bioteknologi, maka  penulis perlu mengubah pendekatan konvensional agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan agar tercipta pembelajaran yang menarik dan bermakna adalah pendekatan Project Based Learning (PjBL) Berbasis Adiwiyata.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.  Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai materi dalam kurikulum. PjBLmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Kerja Proyek memuat tugas-tugas yang kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang, dan menuntut siswa untuk merancangm memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri. Langkah-langkah Pembelajaran PjBL adalah penentuan pertanyaan mendasar, mendesain perencanaan poyek, menyusun jadwal, memonitor peserta didik dan kemajuan proyek, menguji hasil, mengevaluasi pengalaman. (Wena, 2008).

Pendekatan PjBL berbasis Adiwiyata atau Pendidikan Lingkungan Hidup, yaitu bahwasanya peserta didik sebagai generasi penerus bangsa mempunyai peran agar menjaga kelestarian lingkungan. Namun, banyak peserta didik kurang peduli dengan keadaan lingkungan alam yang mulai rusak akibat aktifitas manusia. Hal ini dapat dilihat dari merusak tanaman dan membuang sampah tidak pada tempatnya. Dengan demikian, sudah seharusnya lembaga pendidikan melakukan inovasi melalui rancangan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman, IPTEK, dan fenomena sosial. Oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui program Adiwiyata ini, diharapkan dapat mendorong kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang.

SMP Negeri 1 Ngadirojo merupakan Sekolah Adiwiyata Nasional dengan produk unggulan Jahe dan bersiap menuju Sekolah Adiwiyata Nasional Mandiri. Untuk tercapinya program Adiwiyata ini sekolah menerapkan pembelajaran berbasis Adiwiyata ini pada semua mata pelajaran khususnya IPA tanpa mengurangi hakekat dan isi dari mata pelajaran tersebut. Adiwiyata atau Pendidikan lingkungan hidup ini adalah program pendidikan untuk membina anak didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku yang rasional serta bertanggung jawab terhadap alam dan lingkungan, serta terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Kurikulum berbasis Adiwiyata harus didesain sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar yang diharapkan serta tercapainya tujuan pembelajaran sebagaimana yang diinginkan. Peserta didik dapat peduli dan ikut melestarikan lingkungan hidup. Upaya kelestarian dan pemanfaatan lingkungan sekolah selain sebagai sarana pembelajaran dapat pula dimanfaatkan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan bagi peserta didik.

Program Adiwiyata di SMP Negeri 1 Ngadirojo adalah penanaman karakter warga sekolah yang berwawasan peduli terhadap lingkungan. Untuk itu dilakukan tinjauan atau kajian lingkungan untuk melakukan program tersebut. Tinjauan ini dikenal dengan istilah SEKAM, yaitu akronim dari Sampah, Energi, Keanekaragaman Hayati, Air dan Makanan. Dari hasil tinjuan lingkungan tersebut penulis berusaha melakukan proses pembelajaran yang bisa menjadi solusi untuk mensukseskan program Adiwiyata tersebut, sehingga visi mewujudkan warga sekolah yang disiplin dalam bersikap, luhur dalam berperilaku, unggul dalam berprestasi dan berwawasan lingkungan akan segera tercapai.

Pendekatan PjBL berbasis Adiwiyata diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh siswa khususnya dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada materi Bioteknologi. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran yang selama ini dianggap sebagai kegiatan yang membosankan oleh siswa dapat berubah menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Berdasarkan pada latar belakang diatas, peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut Apakah Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi Bioteknologi pada siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo Semester Genap tahun pelajaran  2018/2019?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar IPA materi bioteknologi melalui pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata pada siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo Semester Ganap Tahun Pelajaran 2018/2019.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah :

a.    Manfaat Teoritis

Dapat mengembangkan pengetahuan baru terkait dengan penerapan pendekatan pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah.

b.   Manfaat secara praktis

1.      Manfaat bagi siswa

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan siswa untuk peningkatan hasil belajar IPA materi Bioteknologi, serta memberi pengetahuan bahwa lingkungan sekolah bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

2.      Manfaat bagi guru

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan guru untuk mempermudah penyampian materi Bioteknologi dengan pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata

3.      Manfaat bagi sekolah

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sekolah untuk peningkatan kualitas pembinaan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekitar sekolah dalam proses pembelajaran

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman nyata. PjBL dilakukan secara sistematik yang mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui investigasi dalam perancangan produk. PjBL merupakan model pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pelaksanaan PjBL memberi kesempatan kepada peserta didik berpikir kritis dan mampu mengembangkan kreativitasnya melalui pengembangan inisiatif untuk menghasilkan produk nyata berupa barang atau jasa.

Pada PjBL, peserta didik terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah yang ditugaskan oleh guru dalam bentuk suatu proyek. Peserta didik aktif mengelola pembelajarannya dengan bekerja secara nyata yang menghasilkan produk real. Jadi, hasil akhir dari proses pembelajaran adalah produk yang bisa bermakna dan bermanfaat. Di samping itu, PjBL dapat. juga dilakukan secara mandiri melalui pembelajarannya melalui pengetahuan serta keterampilan baru, dan mewujudkannya dalam produk nyata. PjBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. Dengan diberi kesempatan untuk mempelajari materi dengan berbagai cara, terlibat dalam pemecahan masalah, dan terlibat dalam kegiatan perancangan produk diharapkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dapat lebih berkembang sehingga peserta didik lebih memahami materi yang dipelajari (Muhammad Fathurrohman, 2015:120).

Pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh seorang guru untuk membelajarkan peserta didik agar dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu sesuai dengan hal yang dipelajarinya. Proses ini berisikan arahan yang dilakukan oleh seorang guru kepada peserta didik untuk melakukan suatu tindakan belajar yang dapat membangun dan menghasilkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada dirinya sehingga terjadi perubahan perilaku yang terwujud dalam suatu hasil pembelajaran. Dalam kaitannya dengan lingkungan menjadikan pembelajaran berbasis lingkungan harus didesain sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar yang diharapkan serta tercapainya tujuan pembelajaran sebagaimana yang diinginkan.  Menurut Syukri (2013: 69) pelaksanaan pendidikan lingkungan sama halnya dengan pendidikan di bidang ilmu yang lain, yakni hendaknya mampu membelajarkan siswa. Dikemukakan pula oleh Yusuf dalam (Syukri, 2013: 69), namun dalam pembelajarannya hendaknya menggunakan pendekatan integratif. Sehingga penerapannya dalam masing-masing mata pelajaran yang berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, tentunya sangat tergantung pada konten materi yang akan diajarkan yang di dalamnya terkait erat dengan permasalahan lingkungan. Di sini pesan-pesan pendidikan lingkungan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepedulian dapat disampaikan tanpa mengurangi makna kegiatan pembelajaran terhadap materi disiplin ilmu pokok yang bersangkutan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan lingkungan bersifat interdisiplin sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan adalah sistem belajar yang diberikan guru di sekolah dengan mengintegrasikan unsur lingkungan pada setiap pelajaran di sekolah tanpa mengurangi makna pembelajaran tersebut. Pembelajaran berbasis lingkungan meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik terhadap lingkungan sekitar.

Menurut Tri Rismawati ( 2013 ), Adiwiyata memiliki pengertian sebagai tempat yang baik dan ideal, karena dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju cita-cita pembangunan berkelanjutan. Adiwiyata dicanangkan untuk mendorong dan membentuk sekolah-sekolah di Indonesia agar mampu melaksanakan upaya pemerintah menuju pelestarian Adiwiyata dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang.

Ciri keilmuan yang melekat pada IPA adalah obyek keilmuannya adalah benda, didukung oleh fakta yang empirik dan logis, dengan metode ilmiah dan sistematika berfikir yang konsisten.Secara garis besar dapat diringkas bahwa IPA adalah : 1) Kualitas; pada dasarnya konsep-konsep IPA selalu dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka; 2) Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk dapat memahami konsep-konsep IPA secara tepat dan dapat diuji kebenarannya; 3) Ramalan (prediksi); merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan. Dengan asumsi tersebut lewat pengukuran yang diteliti maka sebagai peristiwa alam yang akan terjadi dapat diprediksi secara tepat; 4) Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu berkembang kearah yang lebih sempurna dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari penemuan sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan metodeilmiah dalam rangka menemukan suatu kebenaran ; 5) Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum.

Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Perubahan itu diperoleh melalui usaha (bukan karena kematangan), menetap dalam waktu yang relatif lama dan merupakan hasil pengalaman (Syukri, 2013).

Menurut Nana Sudjana ( 2013: 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar adalah nilai (perubahan) yang dicapai oleh peserta didik setelah berlangsungnya proses belajar. Hasil belajar merupakan indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik, juga sebagai indikator terhadap daya serap peserta didik.

Taksonomi Bloom ranah kognitif yang telah direvisi Anderson dan Krathwohl (2001: 66-88) dimensi proses kognitif hasil belajar terdiri atas beberapa tingkat, yaitu: remember (mengingat), understand (memahami), apply (menerapkan), analyze (menganalisis), evaluate (menilai), create (menciptakan).

Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan bahwa pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi bioteknologi pada siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo semester genap tahun pelajaran  2018/2019?

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ngadorojo Wonogiri, Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXC berjumlah sebanyak 26 orang yang terdiri dari siswi putri berjumlah 10 orang, dan siswa putra berjumlah 16 orang yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ngadirojo Semester Gasal Tahun Pelajaran 2018/2019. Objek yang ditangani dalam penelitian ini adalah Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dan penguasaan kompetensi pengetahuan IPA materi Bioteknologi.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan secara bekerja sama dengan guru kelas dalam beberapa siklus yaitu tiap siklus terdiri atas empat kegiatan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Dalam satu siklus terdapat 3 kali pertemuan diantaranya 2 kali pertemuan dengan penerapan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dan 1 kali pertemuan untuk evaluasi.


Gambar 1: Bagan Model Penelitian Tindakan Kelas

(Kemmis dan Mc Taggart)

Konsep dari model pembelajaran PjBL ini dijelaskan terperinci dalam langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tahap 1: Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan tahap awal setelah diperoleh gambaran umum tentang kondisi, situasi pembelajaran di kelas, dan lingkungannya dapat dikenali dengan baik. Tahap perencanaan ini meliputi:

a.         Membuat soal pretest dan posttest. Soal pretest berfungsi untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sedangkan soal posttest sebagai indikator untuk mengetahui ketercapaian prestasi belajar siswa khususnya aspek kognitifnya. Soal pretest dan posttest diberikan pada tiap siklus yang memuat item-item materi usaha dan energi yang sesuai dengan materi setiap siklus.

b.        Membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran PjBL. Untuk menunjang kegiatan ini maka disusunlah RPP agar proses pembelajaran menjadi terencana.

c.         Membuat LKPD ( Lembar Kerja Peserta Didik ) untuk menunjang proses pembelajaran model PjBL sebagai petunjuk agar siswa tidak merasa bingung saat melaksanakan percobaan proyek.

d.        Membuat lembar observasi yang dapat memantau hasil belajar siswa dan keterampilan proses sains. Penilaian pada lembar observasi keterampilan proses sains ini meliputi siswa saat mengamati, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, mengklasifikasi data kedalam tabel, interpretasi data, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Penilaian tersebut dilakukan dengan menggunakan indikator dalam setiap kriteria.

e.         Membuat lembar respon peserta didik yang merupakan refleksi terhadap aktivitas dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Lembar evaluasi juga berisi pengungkapan perasaan dan pengalaman siswa selama proses pembelajaran dalam rangka memperbaiki pembelajaran.

2. Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Action)

Pelaksanaan tindakan merupakan penerapan skenario pembelajaran yang telah direncanakan dan terkendali serta berusaha untuk memperbaiki keadaan. Pada siklus pertama dilakukan pembelajaran sesuai rencana, kemudian dilakukan analisis untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan proses pembelajaran yang berlangsung. Berdasarkan analisis untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan proses pembelajaran yang berlangsung, kemudian dilakukan perbaikan sebagai masukan untuk siklus berikutnya. Pelaksanaan tindakan ditampilkan dalam bentuk catatan, kronologis proses pembelajaran di kelas, pelaksanaan pretest dan posttest, dan hasil observasi di dalam kelas.

Materi yang akan disajikan selama penelitian ini adalah Bioteknologi, secara berturut-turut sebagai berikut:

Siklus I

Pertemuan pertama: Bioteknologi Sub Materi Pokok Biotekologi Pangan. Pertemuan kedua: pengumpulan dan presentasi produk Sub Materi Pokok Biotekologi Pangan

Siklus 2:

Pertemuan pertama: Bioteknologi Sub Materi Pokok Biotekologi Pertanian. Pertemuan kedua: pengumpulan dan presentasi produk Sub Materi Pokok Biotekologi Pertanian

3. Tahap 3: Pengamatan (Observation)

Pengamatan dilakukan oleh guru mata pelajaran IPA dan dibantu oleh beberapa pengamat (observer). Pengamatan yang dilakukan meliputi saat proses pembelajaran berlangsung mengamati aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran keterampilan proses sains pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan instrumen observasi yang telah dibuat dan disiapkan.

4. Tahap 4: Refleksi Tindakan (Reflection)

Pada tahap ini menganalisis pada lembar respon peserta didik yang kemudian akan digunakan sebagai refleksi, metode dan langkah-langkah pembelajaran mana saja yang kurang atau sudah dapat meningkatkan hasil belajar IPA dan keterampilan proses sains dengan model pembelajaran PjBL. Hasil obesrvasi dan refleksi digunakan dalam menentukan perbaikan pada siklus pembelajaran berikutnya apabila diperlukan.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data Kualitatif

Data kualitatif diperoleh dari hasil validasi dosen ahli, guru IPA, serta lembar respon peserta didik berupa komentar dan saran untuk bahan perbaikan pada siklus selanjutnya.

2. Data Kuantitatif

  1. Data penilaian dari soal pretest dan posttest.
  2. Data penilaian keterampilan proses sains yang dinilai dari pengamatan para observer saat siswa mengikuti pembelajaran.

3. Instrumen Pengumpulan Data

  1. Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains

Lembar observasi ini berisi penilaian observer saat mengamati kegiatan dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran PjBL.

  1. Lembar Penilaian Pretest dan Posttest

Lembar penilaian pretest dan posttest ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah melakukakan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran PjBL.

  1. Lembar Respon Peserta Didik

Lembar respon peserta didik pembelajaran berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang diisi oleh siswa setelah pembelajaran dengan model PjBL. Lembar ini berisi refleksi serta pengungkapan perasaan dan pengalaman siswa selama proses pembelajaran.

Pada penelitian ini melibatkan satu kelas yang diberlakukan proses pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran PjBL. Adapun cara pengambilan data meliputi:

1.        Sebelum instrumen diujikan, maka peneliti melakukan uji validitas terlebih dahulu. Untuk instrumen soal pretest, posttest, dan lembar observasi menggunakan validitas isi dengan cara mencocokkan dengan indikator yang akan dicapai serta validitas ahli dengan cara meminta bantuan guru pembimbing dan guru IPA.

2.        Wawancara dengan guru IPA terkait dengan kurikulum, metode, pembelajaran, dan media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran disekolah.

3.        Pemberian soal pretest pada awal pembelajaran pada tiap siklus dengan menggunakan instrumen soal-soal pretest dan posttest pada akhir pembelajaran pada tiap siklus yang berfungsi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa.

4.        Memberikan LKPD sebagai petunjuk saat proses mengerjakan praktikum berlangsung agar siswa tidak merasa kesulitan dan bingung saat mengerjakan proyek percobaan.

5.        Observer yang bertugas mengamati setiap aktivitas siswa saat mengikuti pembelajaran dan menilai pada lembar observasi keterampilan proses sains.

6.        Untuk mengetahui pendapat siswa tentang pembelajaran menggunakan model pembelajaran PjBL maka digunakan lembar evaluasi pembelajaran. Lembar respon peserta didik pembelajaran ini memuat pendapat, tanggapan, dan pemaknaan siswa terhadap faktor yang berkaitan dengan kegiatan percobaan, kesulitan yang dialami siswa, dan saran untuk pemebelajaran berikutnya.

Dalam bahan ajar Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah khususnya Penulisan Proposal PTK (Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, 2016) dikemukakan bahwa ada 3 tahapan yang dilakukan untuk analisis data dalam penelitian ini yaitu :

1.        Reduksi data yaitu dalam reduksi data dilakukan penyederhanaan data hasil penelitian melalui proses seleksi, pengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Yaitu dengan mencari jumlah siswa di bawah KKM, jumlah siswa diatas KKM, rata - rata kelas, nilai minimal,nilai maksimal, daya serap di kelas IXC setelah menggunakan model Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata.

2.        Paparan data yaitu data dipaparkan atau  disajikan dalam bentuk naratif, dengan membuat tabel data atau grafik batang. Grafik ini berisi perbandingan nilai siswa sebelum dan sesudah menggunakan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata.

Penyimpulan yaitu berdasarkan paparan data hasil penelitian dilkukan pengambilan intisari dari keseluruhan paparan atau penyajian data yang telah dideskripsikan untuk diformulakan dalam bentuk kalimat yang singkat dan padat sebagai jawaban terhadap tujuan penelitian, yaitu melihat indikator keberhasilan penelitian ini ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar IPA materi Bioteknologi setelah menggunakan model pembelajaran PjBL Berbasis Adiwiyata. Indikator keberhasilan lain yaitu dengan terpenuhinya sebagian besar siswa pada batas nilai kriteria kentuntasan minimal (KKM) yang berlaku disekolah tersebut. Siswa yang dikatakan tuntas dalam pembelajaran fisika jika telah mencapai skor 73 dan daya serap minimal 85%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

            Sebelum dilaksanakan penelitian dengan menerapkan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data-data, serta informasi-informasi tentang situasi yang relevan di lokasi penelitian agar nantinya dapat dibandingkan dengan keadaan setelah dilakukan penelitian. Data yang dikumpulkan sebelum penelitian adalah Dari hasil ulangan harian sebagai kondisi awal pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018 umumnya kelas IX masih rendah pada materi Bioteknologi. Salah satunya pada kelas IXC bahwa rata-rata nilai ulangan harian adalah 68,57, Siswa yang masuk kategori tuntas belajar  14 siswa ( N ≥ 75), Siswa yang belum tuntas belajar 14 siswa ( N £75), dan prosentase siswa yang sudah tuntas adalah 50,00 %.

 

Grafik 1:Nilai Hasil Belajar Pada Pra Tindakan (Kondisi Awal)

Dari hasil tersebut terlihat bahwa kondisi awal pada semester lalu itu siswa kelas IXC tersebut secara klasikal hasil belajar masih rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata diperoleh hanya 68,57 dan siswa yang tuntas belajar hanya 50,00 %. Kondisi tersebut perlu dilakukan perbaikan dengan melakukan penelitian tindakan kelas pada tahun pelajaran berikutnya yaitu Semester Genap tahun pelajaran 2018/2019.

Deskripsi Siklus I

Penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dilakukan dengan serangkaian tahap model Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu: planning (perencanaan), action (pelaksanaan tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Perencanaan Siklus I proses pengambilan dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa pertemuan proses belajar mengajar. Hal ini dilakukan dengan harapan tindakan yang dilaksanakan akan mencapai hasil yang maksimal. Materi pokok yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bioteknologi.

Pelaksanaan tindakan kelas pada siklus I berlangsung dalam 3 kali pertemuan, yang terdiri dari 2 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus I. Materi yang dibahas pada siklus I ini adalah Bioteknologi pangan. Banyaknya pertemuan pada siklus I diperoleh berdasarkan hasil diskusi bersama guru observeryang disesuaikan dengan cakupan materi pada kompetensi dasar serta alokasi waktu pada silabus. 

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dilaksanakan pada hari selasa 8 januari 2019 dengan alokasi waktu 3x40 menit dan pertemuan kedua kamis 10 januari 2019 dengan alokasi waktu 2x40menit. Pelaksanaan proses pembelajaran disesuaikan dengan RPP yang telah disusun sesuai dengan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata. Dalam pelaksanaan prosespembelajaran penelitian melakukan kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan, yaitu kegiatan pembelajaran dengan menerapkan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata. Sedangkan guru bertindak sebagai observer untuk menilai aktivitas belajar. Proyek yang dihasilkan dalam pertemuan ini adalah pembuatan minuman jahe Jargo,bolu jahe nata,tempe,tape.

Tes penguasaan kompetensi pengetahuan IPA materi Bioteknologi pangan  diberikan pada hari senin, 15 januari 2019. Tes penguasaan kompetensi Pengetahuan IPA yang diberikan disesuaikan dengan kisi-kisi tes penguasaan kompetensi pengetahuan IPA yang telah disusun sebelumnya. Dengan menerapkan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata diperoleh hasil rata-rata nilai rata-rata hasil belajar adalah 79,04, Siswa yang tuntas belajar 22 siswa, Siswa yang belum tuntas belajar 4 siswa, Prosentase siswa yang sudah tuntas adalah 84,62%. Bila digambarkan tampak  seperti grafik pada gambar 2 di bawah ini.

Grafik 2 : Nilai Hasil Belajar IPA Pada Siklus 1

Berdasarkan pengamatan pada siklus I berlangsung diperoleh beberapa hal yang menjadi perhatian, di antaranya:

  1. Pengamatan peneliti dan observer pada kerjasama antar peserta didik dalam kelompok masih kurang, sehingga dalam mengerjakan proyek percobaan hanya didominasi oleh beberapa peserta didik saja.
  2. Pengerjaan soal-soal pretest dan posttest siklus I terhadap perilaku peserta didik masih banyak yang bekerja sama dalam mengerjakannya serta peserta didik juga ramai sendiri.
  3. Dampak perlakuan siklus I yang diawali dengan perencanaan, tindakaan dan pengamatan berpengaruh pada diri peserta didik. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada hasil nilai tes yang dilakukan. Hasil belajar dapat diketahui peningkatannya yaitu pada nilai sebelum dilakukan pembelajaran rata-ratanya 68,57 dan sesudah dilakukan pembelajaran dengan model PjBL rata-ratanya menjadi 79,04

Berdasarkan hasil diskusi antara guru mata pelajaran, peneliti, dan observer didapatkan hasil refleksi sebagai berikut:

  1. Peserta didik tertarik dan senang dengan penerapan model pembelajaran PjBL berupa merancang proyek percobaan, presentasi, dan diskusi yang telah dilakukan.
  2. Peserta didik masih kebingungan dalam merancang percobaan dan diskusi sehingga masih membutuhkan bimbingan dari guru dan observer.
  3. Kerja sama peserta didik masih kurang, sehingga dalam pengerjaan proyek hanya didominasi oleh beberapa peserta didik saja.
  4. Guru kurang tegas dalam memimpin pembelajaran sehingga masih ada peserta didik yang ramai sendiri dan bekerja sama saat mengerjakan soal pretest dan posttest.
  5. Model pembelajaran dengan metode percobaan diminati oleh peserta didik dan perlu dipikirkan cara agar peserta didik dapat bekerja sama dalam mengerjakan percobaan.
  6. Perlu diantisipasi dalam merancang percobaan yang lebih rumit, karena guru akan mengalami kesulitan dalam mengelola kelas dengan jumlah kelompok yang banyak (8 kelompok).
  7. Pada akhir pembelajaran peserta didik menghendaki agar guru mengulang kembali materi yang telah dipelajari peserta didik saat mengerjakan proyek percobaan sehingga para peserta didik benar-benar jelas dalam memahami materi.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan analisis yang telah dilakukan serta berdasarkan evaluasi proses pembelajaran maka perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya. Rencana perbaikan pada siklus II adalah sebagai berikut:

  1. Perlu dilakukan bimbingan, perhatian, dan motivasi dari guru yang lebih banyak, baik secara individu maupun antar kelompok sehingga kerja sama dan keterlibatan peserta didik dalam mengerjakan proyek percobaan dapat meningkat.
  2. Guru perlu mengulang kembali materi yang telah dipelajari peserta didik saat mengerjakan proyek percobaan sehingga para peserta didik benar-benar jelas dalam memahami materi.
  3. Observer perlu ditambah pada tiap kelompok agar observer tidak kesulitan dalam mengamati kegiatan peserta didik dan tidak ada data yang terbuang saat melakukan pengamatan.

Deskripsi Siklus II.

Pembelajaran pada siklus II merupakan hasil refleksi serta diskusi secara kolaboratif antara guru, peneliti, dan observer yang diperoleh pada siklus I. Langkah-langkah pembelajaran siklus II disusun berdasarkan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I. Pada siklus II ini, perbaikan tindakan yang dilakukan meliputi pemberian motivasi, perhatian, dan motivasi agar peserta didik dapat terlibat lebih aktif saat proses pembelajaran. Guru memberi pengulangan materi kembali yang telah dipelajari peserta didik saat melaksanakan proyek percobaan, dan menambah observer yang terlibat menjadi satu observer per kelompok agar observer juga lebih mudah dan fokus dalam mengamati peserta didik, sehingga tidak ada data yang terbuang saat proses pengamatan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Tindakan pada siklus I sebenarnya sudah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik tetapi masih belum signifikan dan peserta didik juga masih menginginkan guru lebih menjelaskan atau memperkuat konsep materi yang dipelajari serta peserta didik juga masih merasa kesulitan dalam melakukan percobaan, untuk itu perlu diadakan perbaikan pada siklus II. Pada siklus I kerja sama peserta didik masih terlihat rendah dalam kerja sama dan diskusi kelompok, hal ini tampak dari tidak semua peserta didik aktif dalam melaksanakan proyek percobaan yang ditugaskan.

Guru dan peneliti merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus II. Peneliti menentukan materi yang akan disampaikan yaitu materi pokok Biotrknologi Pertanian. Pada siklus ini proyek yang dikerjakan tentang materi yang akan diajarkan tersebut. Selanjutnya guru dan peneliti membuat perangkat pembelajaran yaitu RPP, LKPD, lembar observasi keterampilan proses sains, lembar evaluasi pembelajaran, dan instrumen penilaian kognitif (pretest dan posttest). Guru, peneliti, dan observer akan melakukan bimbingan, perhatian, dan motivasi lebih banyak, baik secara individu maupun menyeluruh sehingga kerja sama dan keterlibatan semua peserta didik dalam mengerjakan proyek dan diskusi dapat lebih meningkat. Guru dan peserta didik terlibat dalam diskusi untuk menyamakan konsep materi serta guru juga melakukan pengulangan materi yang telah dipelajari peserta didik saat melaksanakan proyek percobaan dan memberikan informasi tambahan yang belum ada pada proyek.

Sama seperti pada siklus I, pada siklus II dilakukan pula 4 tahap tindakan. Pada tahap Perencanaan,peneliti melakukan kegiatan yaitu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) materi Bioteknologi sub materi Bioteknologi Pertanian Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata, validasi perangkat&instrumen, dan Merakit lembar observasi dan soal untuk mengukur hasil belajar siswa pada siklus II. Pelaksanaan Tindakan.Pelaksanaan tindakan siklus II ini lebih menekankan pada pelaksanaan hasil refleksi siklus I yakni mempertahankan apa yang telah baik dan memperbaiki tindakan yang belum maksimal dilakukan dalam menerapkan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II sama seperti dengan siklus I yaitu berlangsung dalam 3 kali pertemuan, yang terdiri atas 2 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus II. Materi yang dibelajarkan pada siklus II ini adalah Bioteknologi pertanian. Banyaknya pertemuan pada siklus II diperoleh berdasarkan hasil diskusi bersama guru observer disesuaikan dengan cakupan materi pada kompetensi dasar serta alokasi waktu pada silabus.

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II dilaksanakan pada hari kamis 17 januari 2019 dengan alokasi waktu 2x40menit dan pertemuan kedua selasa 22 januari 2019 dengan alokasi waktu 2x40menit. Pelaksanaan proses pembelajaran disesuaikan dengan RPP yang telah disusun sesuai dengan pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran penelitian melakukan kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan, yaitu kegiatan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata. Sedangkan guru bertindak sebagai observer untuk menilai aktivitas belajar. Proyek yang dihasilkan pada pertemuan ini adalah hidroponik dan pembibitan tanaman dari kardus bekas.

Tes penguasaan kompetensi pengetahuan IPA diberikan pada hari kamis 24 januari  2019. Tes Penguasaan Kompetensi Pengetahuan IPA yang diberikan disesuaikan dengan kisi-kisi tes penguasaan kompetensi pengetahuan IPAyang telah disusun sebelumnya. Berikut adalah deskripsi singkat pelaksanaan proses pembelajaran siklus II pertemuan pertama, dan kedua

Hasil diperoleh adalah rata-rata nilai hasil belajar 84,42 siswa yang tuntas 25 siswa atau 96,15% dan hanya 1 siswa saja yang belum tuntas.Untuk memperlihatkan rata-rata perolehan, nilai minimum, nilai maksimum dan prosentase yang tuntas digambarkan seperti pada grafik 3 di bawah ini.

 

Grafik 3: Nilai Hasil Belajar IPA Pada Siklus II

Berdasarkan pengamatan saat siklus II berlangsung didapatkan beberapa hal yang menjadi perhatian, diantaranya:

1.      Pengamatan peneliti dan observer pada kerjasama antar peserta didik dalam kelompok sudah mulai mengalami kemajuan, sehingga dalam pengerjaan proyek percobaan sudah hampir semua peserta didik terlibat dalam diskusi maupun pengerjaan proyek percobaan.

2.      Pengerjaan soal-soal pretest dan posttest siklus II terhadap perilaku peserta didik yang bekerjasama dalam mengerjakannya sudah mulai berkurang serta sudah mulai tenang dalam mengerjakan soal.

3.      Dampak perlakuan siklus II yang diawali dengan perencanaan, tindakaan dan pengamatan berpengaruh pada diri peserta didik. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada hasil nilai tes yang dilakukan. Hasil belajar dapat diketahui peningkatannya yaitu pada nilai siklus I dilakukan pembelajaran rata-ratanya 79,04 dengan nilai siklus II rata-ratanya menjadi 84,42

Berdasarkan hasil kolaborasi antara guru mata pelajaran, peneliti, dan observer didapatkan hasil refleksi sebagai berikut :

1.      Peserta didik tertarik dan senang dengan penerapan model pembelajaran PjBL berupa merancang percobaan yang dilakukan, presentasi, dan diskusi yang telah dilakukan.

2.      Peserta didik mulai aktif dalam bekerjasama, mengemukakan pendapat, dan berdiskusi.

3.      Perlu diantisipasi untuk merancang percobaan yang lebih rumit, guru juga akan mengalami kesulitan dalam mengelola kelas karena jumlah kelompok yang banyak (8 kelompok).

4.      Berdasarkan pada hasil belajar dan keterampilan proses yang dicapai pada siklus II telah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik secara kognitif dan peningkatan keterampilan proses sains, maka peneliti menyimpulkan bahwa tindakan perbaikan pada penelitian ini sudah dapat dihentikan.

Jika kita lihat secara utuh hasil belajar siswa mulai dari pra tindakan, capaian hasil belajar siklus I dan II, dapat dilihat seperti tabel 1 dan grafik 4 di bawah ini.

Tabel 1: Rekap Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata siswa kelas IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo Semester Genap Tahun Pelajaran 2018/2019

No

Data

Pra siklus

Siklus I

Siklus II

Peningkatan

Prosentase

1

Rata - rata

68,57

79,04

84,42

16

16%

2

Nilai Tertinggi

80,00

95,00

100,00

20

20%

3

Nilai Terendah

50,00

65,00

70,00

20

20%

4

Ketuntasan

50,00

84,62

96,15

46

46%

Data pada table 1 di atas, jika disajikan dalam grafik maka akan terlihat seperti gambar 4 di bawah ini.

Grafik4: Peningkatan Hasil Belajar IPA mulai Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Hasil evaluasi berdasarkan tabel 1 dan grafik 4 diatas menunjukkan hal - hal sebagai berikut :

1.      Nilai rata-rata meningkat, yaitu dari kondisi awal  sebesar 68,57  menjadi 79,04 pada siklus I dan 84,42 pada nilai siklus II.

2.      Tingkat ketuntasan belajar siswa, yaitu dari 50,00% kondisi awal menjadi 84,62% pada siklus I dan 96,15% pada siklus II.

                        Berdasarkan uraian diatas, penerapan model Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dapat meningkatkan hasil belajar fisika dalam ranah kognitif dan keterampilan proses sains peserta didik. Penerapan model pembelajaran PjBL akan efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPA Materi Bioteknologi apabila dilakukan bimbingan pada peserta didik saat melaksanakan percobaan dan presentasi hasil.

                        Hal ini sesuai dengan konsep belajar menurut Piaget, pengetahuan akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik. Pengetahuan itu dapat diperoleh ketika peserta didik melakukan aksi atau tindakan terhadap suatu rangsang, maka peserta didik akan memperoleh pengetahuan fisik. Akhirnya ia mampu mentransfer aktivitas fisiknya menjadi gagasan atau ide-ide (Wina Sanjaya, 2006: 194).

                        Pembelajaran yang dilakukan dengan eksperimen atau percobaan menyebabkan peserta didik dapat mengetahui tentang konsep yang dipelajari secara berangsur sehingga peserta didik menemukan sendiri konsep materi yang dipelajari dan pembelajaran menjadi lebih bermakna, tercapainya pembelajaran yang bermakna maka hasil belajar peserta didik juga dapat meningkat (Supriyadi, 2006: 18).

                        Berdasarkan hasil penelitian dan uraian tersebut ini berarti bahwa dengan penerapan Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi Bioteknologi pada siswa IXC SMP Negeri 1 Ngadirojo semester genap  tahun pelajaran 2018/2019.

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil dan pembahasan penelitian di atas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut Terjadi peningkatan penguasaan kompetensi pengetahuan IPA Materi Bioteknologi melalui Pendekatan Project Based Learning (PjBL) berbasis Adiwiyata pada siswa kelas IXC Semester Genap SMP Negeri 1 Ngadirojo tahun pelajaran 2018/2019. Dengan rata-rata nilai hasil belajar IPA sebelum penelitian sebesar 68,57 dan ketuntasan klasikal 50,00%. Setelah dilakukan penelitian tindakan pada rata-rata nilai hasil belajar IPA pada siklus I sebesar 79,04 dan ketuntasan klasikal siswa sebesar 84,62%. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar IPA mencapai 84,42 dan ketuntasan klasikal siswa sebesar 96,15%.

Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

1.        Model pembelajaran PjBL yang berupa merancang percobaan dalam upaya meningkatkan hasil belajar IPA dan keterampilan proses sains merupakan model pembelajaran yang relevan dalam diterapkan di dalam kelas sehingga tercipta pembelajaran yang lebih bermakna dan siswa biasa berproses dalam menemukan konsep pelajaran IPA sendiri.

2.        Untuk mengetahui reliabilitas pada keterampilan proses sains pada siswa sebaiknya setiap kelompok dapat diamati oleh 2 orang observer untuk mengetahui perbandingannya.

3.        Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan keterampilan proses IPA dapat digunakan dua kelas sehingga hasilnya dapat dibandingkan.

4.        Penelitian sejenis dapat dilakukan pada materi pokok yang lainnya sehingga dapat diketahui perbandingan hasil keefektifannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adnan M.Baralemba2016. Bahan Tayang PTK.  Depok Pusdiklat Pegawai Kemendikbud.


Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing; A revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives. New York: Addison Wesley Lonman Inc.

Kemendikbud. 2012. Dokumen Kurikulum 2013. Jakarta : Direktorat Pendidikan Menengah Umum

Kemmis, S & Mc Taggart, R. 1992. The Action Research Planner. Australia: Deakin University Press

Muhammad Fathurrohman. 2015. Model-model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Nana Sudjana. 2013. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar Cetakan ketujuhbelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, 2016. Bahan Ajar Penelitian Tindakan Kelas. Depok : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud.

SMP Negeri 1 Ngadirojo.2018. Kurikulum 2013 SMP Negeri 1 NgadirojoWonogiri. Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Wonogiri.

Suharsimi Arikunto. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Erlangga.


Supriyadi. 2006. Manajemen dan Teknologi Pembelajaran IPA Fisika. Yogyakarta: FMIPA UNY.

 

Syukri Hamzah. 2013. Pendidikan Adiwiyata. Bandung: PT Refika Aditama.

 

Tri Rismawati. 2013. Efektivitas Program Adiwiyata Sebagai Upaya Penanaman Rasa Cinta Adiwiyata. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 2 No. 1

Wena, M. 2008. Strategi Pembelajaran Inovatif kontemporer. Malang : Bumi antariksa .

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Definition List

Unordered List

Support